Kalau saya menulis postingan mengenai aa gym(nasium?), bukan berati saya mau ikut² tren di beberapa blog (katanya loh, ga tau juga. Lha wong ga pernah blogwalking), atau pengen naekin jumlah komen, dsb.
Bukan kok…

Saya bukan fans aa gym. Tidak mengidolakan dia. Apalagi memujanya.
Saya hanya salah satu dari banyak orang yg kebetulan senang aja mendengar ceramah dia. Sesekali. Itupun hanya di TV. Tidak sampai bela²in datang kemanapun dia beredar.
Saya hanya seseorang, yg pernah duduk terdiam di depan TV ketika mendengar nasihat²nya yg menyentuh kalbu, pernah pula meneteskan air mata… merasa diri ini penuh dosa.
Sebanyak itu ulama di Indonesia, buat saya… hanya aa gym yg bisa menenangkan hati.
Waktu jaman kuliah dulu, di awal tahun 2000, waktu aa belum masuk TV, tiap subuh saya sering dengerin ceramah dia di Radio Paramuda Bandung. Tidak tau siapa dia, tp dia benar² menentramkan hati.
Iya… cuma aa gym. Bukan Zainuddin MZ yg terlalu banyak bercanda (dan tidak lucu pula), bukan pula Ustadz Jefry yg terlalu modis, gaul dan ber “gue-gue”

Tapi saya bukan Fans Aa gym. Tidak mengidolakannya. Tidak pula memujanya.
Sehingga ketika hal yang-yah-kita-semua-tau-lah ini terjadi,
saya tidak sampai patah hati, sobek² foto aa gym + buang gelas yg dibeli dari MQ (waktu itu ada tuh di TV, ibu² ngomel² pake emosi sambil sobek² foto aa gym di depan TV), apalagi bunuh diri.

Yah, paling², aa gym hanya membuat saya berfikir, bahwa mungkin.. apapun latar belakang dan profesinya, lekaki dan syahwat memang tidak bisa dipisahkan.

Tapi setidaknya, kata saya sih, aa gym masih lebih mending lah.
Pertama… dia tidak menikah diam diam² (Macam puspo wong solo itulah). Tetapi dia berdiskusi dahulu dengan istrinya
Bandingkan dengan hampir kebanyakan para lelaki di Indonesia yg berlindung dibalik agama.
Menikah dulu diam² baru bilang istrinya. Macam jebakan betmen, istri pertama dibuat tidak berkutik. Mau bilang apa? udah keburu punya banyak anak, udah keburu keluar dari pekerjaan, mau minta cerai… mau hidup pake apa?
Atau malah kayak pelawak Kiwil, berzina dulu, hamil di luar nikah dulu, lalu dinikahi. Lalu nanti tinggal bilang, kan lelaki boleh punya istri lebih dari satu.
Yea right, sudah berzina.. baru nanti bawa² agama.

Kedua, setidaknya aa gym menikah dengan Janda. Anak 3.
Bukannya dengan gadis muda.
Walaupun jandanya cantik, putih, body oke.
Yah, ujung²nya.. mau ga mau membuat kita berkesimpulan, ga jauh jauh dari urusan tempat tidur.

Yah,
memang menjadi perempuan itu berat.
Bahkan kalau ingin naik derajat dan menjadi bidadari di surga, kita harus ikhlas berbagi suami.

Tapi sebetulnya sama aja, kenapa perempuan lain ada yg mau menyakiti hati perempuan lainnya?
Tidak rela dirinya disakiti, namun sayang sekali… rela menyakiti demi kebahagiannya.

Saya jadi ingat nasihat dosen agama saya sewaktu kita berdiskusi dalam sebuah pesantren yg pernah saya ikuti, membahas poligami, dan situasi sudah memanas. Dia pun berucap,

Ibu tau bahwa tidak satupun dari kalian yg rela diduakan saat menikah nanti. Maka jika poligami tidak kalian setujui, maka demikianlah adanya. Ibu hanya bisa berucap, jika kalian tidak bersedia diduakan… maka berjanjilah bahwa kalian tidak akan menjadi wanita yang kedua

Advertisements