Archives for the month of: December, 2006

Menurut gue, makanan yg paling sedap di muka bumi ini adalah makanan yg bercita rasa tinggi.
Seperti apakah makanan bercita rasa tinggi?
yaitu makanan yg mnegandung kadar garam yg cukup (alias asin) dan mengandung banyak cabe-cabean alis pueedeeesss…..
Ga tau nih, kenapa ya gue ga bisa makan kalau tidak ada yg namanya Cabe, sambel, baik itu sambel botolan.. lebih mantap lagi kalau itu adalah sambel ulek.
Nyam nyam

pacar saya aja sering saya marahin gara2 kalo lg makan, suka lupa ngambil sambel.
Langsung saya pelototin.
Ambil sambel nggak? hah? Hah? HAH?
:p

Mungkin ini diakibatkan oleh karena saya punya ibu Orang Padang. Dari saya kecil, masakan ibu saya selalu variatif.
Iya, variatif. Dari satu balado ke balado yg lain hihihi.
Jadinya saya terbiasa tidak bisa hidup tanpa sambal.

Jadi inget, saya ini punya penyakit maag.
Lumayan akut. Lha wong saya ini sudah bulak balik di opname gara2 maag. Bayangkan!!
Trus bokap pun jadi prihatin (ceritanya).
Lalu jadilah beliau menasihati saya macem2 mulai dari,

aduh, kamu jangan bikin malu papa dong. Masak anak dokter masuk rumah sakit gara2 sakit maag. entar dikira papa ga ngasih kamu makan, lagi

sampai ke,

Kalau makan yg teratur dong! Nanti lambung kamu bolong baru tau rasa!”

tapi ga satupun yg bisa menggugah rasa prihatin pada diri sendiri untuk mulai jaga sikap, jaga kelakuan.
Sampai akhirnya bokap gue pun mengeluarkan jurus pamungkasnya,

kalau terus2an kayak gini, tau rasa nanti kamu kalau ga bisa lg makan pedes gara2 lambung kamu semakin lemah

ctaarrr!!
Bagai tersambar petir di siang bolong (tp kok bunyinya kayak sabetan cambuk)
Saya langsung ketakutan. Dan berjanji untuk mulai jadi anak yg rajin sarapan pagi, makan siang jam 12, dan makan malam jam 7 (tapi boong, soalnya sekarang jadi anak kost… jadi ga mungkin bisa makan teratur lg)

begitulah,
saking cintanya pada sambel. Hidup rasanya merana tanpa ada efek pedas pada makanan.

Tapi masalahnya, akhir2 ini gue jadi sering terserang diare. Sering as in SERING BANGET.
Ampe temen kantor gue komen, “kok penyakit lo tiap hari itu diare sih?”
huhuhuhu…

Masalahnya, kalo udah kepengen banget pupi, rasanya sungguh menyakitkan.
Merasa tidak secure berada di tengah dunia jakarta ini. Rasanya pengen deket2 sama lokasi toilet aja.
Pernah pada suatu kali, gue sangat tidak tahan.
dan sialnya, gue lg ada di Kopaja menuju kantor.
Dan yg lebih sial lg…. gue ada di tengah kemacetan Kota Jakarta yg kacrut ini.
Huaaaaahhhhhhhhhhh………

gue langsung gelisah.
goyang kanan. goyang kiri. geser kanan. geser kiri. geser bang! Geser sikiitttt…
Dan ketika sudah sampai di deket gedung kantor gue, gue langsung buru2 turun.
The problem is…
untuk bisa sampai ke gedung kantor gue, gue harus menyebrangi jembatan penyebrangan (ya iya lah) yang panjang dan berliku.

Oh tidakkk…
bagaimana ini.
Mana saya sanggup.
Ini aja jalan udah bungkuk bungkuk sembari mengepit kaki kanan dan kaki kiri

dan akhirnya, dengan modal muka-tebel-sok-pede-biarin-aja-habis-gimana-dong-gada-pilihan-lagi gue pun memasuki gedung yg ada di dekat tempat pemberhentian gue. Masuk ke dalam seolah2 karyawan disana. Masuk ke lantai entah berapa. Dan masuk ke toilet uhehueheuheuheuehuehueheuhe

Moral of the story,
tau waktu lah kalau mau makan sambel.
Jangan pagi2 menjelang ke kantor pun masih dibela2in ngemil cabe rawit

Kalau saya menulis postingan mengenai aa gym(nasium?), bukan berati saya mau ikut² tren di beberapa blog (katanya loh, ga tau juga. Lha wong ga pernah blogwalking), atau pengen naekin jumlah komen, dsb.
Bukan kok…

Saya bukan fans aa gym. Tidak mengidolakan dia. Apalagi memujanya.
Saya hanya salah satu dari banyak orang yg kebetulan senang aja mendengar ceramah dia. Sesekali. Itupun hanya di TV. Tidak sampai bela²in datang kemanapun dia beredar.
Saya hanya seseorang, yg pernah duduk terdiam di depan TV ketika mendengar nasihat²nya yg menyentuh kalbu, pernah pula meneteskan air mata… merasa diri ini penuh dosa.
Sebanyak itu ulama di Indonesia, buat saya… hanya aa gym yg bisa menenangkan hati.
Waktu jaman kuliah dulu, di awal tahun 2000, waktu aa belum masuk TV, tiap subuh saya sering dengerin ceramah dia di Radio Paramuda Bandung. Tidak tau siapa dia, tp dia benar² menentramkan hati.
Iya… cuma aa gym. Bukan Zainuddin MZ yg terlalu banyak bercanda (dan tidak lucu pula), bukan pula Ustadz Jefry yg terlalu modis, gaul dan ber “gue-gue”

Tapi saya bukan Fans Aa gym. Tidak mengidolakannya. Tidak pula memujanya.
Sehingga ketika hal yang-yah-kita-semua-tau-lah ini terjadi,
saya tidak sampai patah hati, sobek² foto aa gym + buang gelas yg dibeli dari MQ (waktu itu ada tuh di TV, ibu² ngomel² pake emosi sambil sobek² foto aa gym di depan TV), apalagi bunuh diri.

Yah, paling², aa gym hanya membuat saya berfikir, bahwa mungkin.. apapun latar belakang dan profesinya, lekaki dan syahwat memang tidak bisa dipisahkan.

Tapi setidaknya, kata saya sih, aa gym masih lebih mending lah.
Pertama… dia tidak menikah diam diam² (Macam puspo wong solo itulah). Tetapi dia berdiskusi dahulu dengan istrinya
Bandingkan dengan hampir kebanyakan para lelaki di Indonesia yg berlindung dibalik agama.
Menikah dulu diam² baru bilang istrinya. Macam jebakan betmen, istri pertama dibuat tidak berkutik. Mau bilang apa? udah keburu punya banyak anak, udah keburu keluar dari pekerjaan, mau minta cerai… mau hidup pake apa?
Atau malah kayak pelawak Kiwil, berzina dulu, hamil di luar nikah dulu, lalu dinikahi. Lalu nanti tinggal bilang, kan lelaki boleh punya istri lebih dari satu.
Yea right, sudah berzina.. baru nanti bawa² agama.

Kedua, setidaknya aa gym menikah dengan Janda. Anak 3.
Bukannya dengan gadis muda.
Walaupun jandanya cantik, putih, body oke.
Yah, ujung²nya.. mau ga mau membuat kita berkesimpulan, ga jauh jauh dari urusan tempat tidur.

Yah,
memang menjadi perempuan itu berat.
Bahkan kalau ingin naik derajat dan menjadi bidadari di surga, kita harus ikhlas berbagi suami.

Tapi sebetulnya sama aja, kenapa perempuan lain ada yg mau menyakiti hati perempuan lainnya?
Tidak rela dirinya disakiti, namun sayang sekali… rela menyakiti demi kebahagiannya.

Saya jadi ingat nasihat dosen agama saya sewaktu kita berdiskusi dalam sebuah pesantren yg pernah saya ikuti, membahas poligami, dan situasi sudah memanas. Dia pun berucap,

Ibu tau bahwa tidak satupun dari kalian yg rela diduakan saat menikah nanti. Maka jika poligami tidak kalian setujui, maka demikianlah adanya. Ibu hanya bisa berucap, jika kalian tidak bersedia diduakan… maka berjanjilah bahwa kalian tidak akan menjadi wanita yang kedua